Apakah Yesus Tuhan atau anak Tuhan?
![]() |
| www.infobreakingnews.com |
Saudara-saudara kita ummat
Kristen menganggap Yesus (Nabi Isa a.s.) sebagai Tuhan dan oknum kedua dari
keTuhanan. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah Yesus mendakwakan keTuhanan
beliau sendiri? Sebuah kajian injil-injil secara hati-hati mengungkapkan bahwa
beliau tidak mendakwakan. Pada suatu kesempatan, beliau diriwayatkan telah
bersabda, “Mengapa kau katakan aku baik?
Tak seorangpun yang baik kecuali Allah saja” (Markus 10:18). Yesus dengan
kata ini dengan jelas tak membuat dakwa keTuhanan (Matius 19:16:17 dan Lukas
18:19). Disini kita punya bukti yang nyata bahwa beliau adalah manusia biasa
yang tak dapat mendakwakan sebagai yang baik dan sempurna seperti Tuhan. Ketika
dipakukan pada tiang salib beliau berkata, “Allah-ku,
Allah-ku, mengapa engkau meninggalkan aku?” (Markus 15:34).
Andaikata Yesus adalah Tuhan,
kepada siapa beliau tuju ketika beliau berseru “Tuhanku, Tuhanku” dan
sebagainya? Tuhan mempunyai Tuhan adalah tidak dapat diterima.
Kepada muridnya beliau bersabda, “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut
aku, dan barangsiapa menyambut aku, ia menyambut Dia yang mengutus aku”
(Matius 10:40 dan lihat juga Lukas 10:16 dan Yohanes 12:44). Siapa yang
mengutus Yesus, seandainya beliau sendiri adalah Tuhan? Kata berikut ini dengan
hasil yang sama.
“Ajaranku tidak berasal dari diriku sendiri tetapi dari Dia yang telah
mengutus aku” (Yohanes 7:16)
dan juga
“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau,
satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau
utus” (Yohanes 17:3)
Lebih lanjut:
“Supaya mereka menjadi satu, sama seperti engkau, yaa Bapak didalam
aku, dan aku didalam Engkau, agar mereka juga didalam kita, supaya dunia
percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku” (Yohanes 17:21)
Lagi:
“Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri aku menghakimi
sesuai dengan apa yang aku dengar, dan penghakimanku adil, sebab aku tidak
menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku. Kalau
aku bersaksi tentang diriku sendiri maka kesaksianku itu tidak benar”
(Yohanes 5:30-31).
Pernyataan-pernyataan ini
menunjukkan bahwa Yesus menganggap diri beliau sendiri sebagai seorang nabi
yang diutus Tuhan. Terhadap mereka yang menentang beliau dan tidak siap
mengakui dakwa beliau bersabda, “Seorang
nabi dihormati dimana-mana, kecuali ditempat asalnya sendiri, diantara kaum
keluarganya dan dirumahnya” (Markus 6:4)
Menurut Yesus, Tuhan Maha
Mengetahui. Tetapi beliau sebaliknya menganggap pengetahuan beliau sendiri
terbatas. Beliau bersabda, “Tetapi
tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di
surga tidak, dan anakpun tidak, hanya Bapak saja” (Markus 28:30). Lagi
ketika seorang ahli Taurat menanyai Yesus apa perintah pertama, Yesus
menjawabnya, “Hukum yang pertama ialah:
Dengarlah, hai anak Israil, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa” (Markus
28:30), yang secara pasti mengutarakan perintah Tuhan yang tegas kepada bangsa
Israil melalui Musa a.s. dan sebab itu membuktikan secara pasti bahwa Tuhan
pencipta segala sesuatu, seseorang harus mengasihi dengan segenap hatinya,
dengan segenap jiwanya, dengan segenap akal budinya, dan dengan segenap
kekuatannya”. (vide ulangan 6:4-9)
Kenyataan bahwa Yesus menganggap
diri beliau sendiri sebagai anak Tuhan bukan merupakan bukti keTuhanan beliau.
Beliau menganggap seluruh manusia sebagai anak Tuhan. Beliau bersabda, “Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapak
di bumi ini, karena hanya satu bapakmu, yaitu Dia yang di surga” (Matius
23:9). Beberapa keberatan menyatakan bahwa perkataan Tuhan diterapkan kepada
Yesus Kristus, beliau unik dan jadi Tuhan. Tetapi hal ini tidak tepat, sebab
dalam Keluaran 7:1 Musa ditunjuk menjadi satu Tuhan kepada Fir’aun dan saudara
beliau Harun sebagai nabi oleh Tuhan sendiri. Yesus Kristus disalahpahami oleh
kaum Yahudi pada segi ini dan untuk alasan itu mereka terdorong untuk melempar
beliau dengan batu, menjelaskan dakwa beliau sebagai kiasan dan bukan sebagai
hal yang sebenarnya (lahiriah).
Kemudian kaum Yahudi mengambil
batu lagi untuk melempari beliau. Yesus menjawab mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapakku, yang kuperlihatkan
kepadamu, pekerjaan manakah diantaranya yang menyebabkan kamu mau melempari
aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan
karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena
engkau menghujat Allah dan karena engkau sekalipun hanya seorang manusia saja,
menyamakan dirimu dengan Allah”. Kata Yeus kepada mereka, “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat
kamu, ‘Aku telah berfirman: Kamu adalah Allah? Jikalau mereka kepada firman itu
disampaikan, disebut Allah, sedang kitab suci tidak dapat dibatalkan masihkah
kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh bapak dan yang telah diutus-Nya ke
dalam dunia: engkau menghujat Allah! Karena aku telah berkata: aku anak Allah?”
(Yohanes 10:30-36 teruskan dalam Mazmur 82:6)
Ungkapan anak Allah digunakan
oleh orang-orang Yahudi bahkan sebelum kedatangan Yesus. Kenyataannya ungkapan
ini adalah hal yang sangat tua (lama). Dalam Kejadian 6:2, anak-anak Tuhan
telah mengambil anak-anak manusia sebagai istri-istri mereka. Mengenai Israil,
selain itu dikenal sebagai Yakub, tertulis, “Israil
adalah anak-Ku yang sulung” (Keluaran 4:22). Tentang Salomo yang membangun
rumah Tuhan, kita baca, ”Aku akan menjadi
Bapak-nya dan dia akan menjadi anak-Ku” (2Samuel 7:14).
Kajian perjanjian lama dengan
teliti telah membuktikan bahwa ungkapan anak Allah tidak pernah digunakan untuk
Tuhan atau untuk menyatakan pernyatuan haqiqi dengan Tuhan ataupun keturunan jasmani
dari Dia. Hal itu dipakai secara bebas dipakai untuk orang-orang suci,
nabi-nabi dan raja-raja. Contohnya, Kepada Daud Tuhan berfirman dalam Mazmur
2:7, “Anak-Ku engkau! Engkau telah
kuperanakkan pada hari ini”. Timbul pertanyaan: adakah Yesus memperkenalkan
suatu perubahan pada makna ungkapan ini? Bahkan penelusuran pada Injil akan
memberitahu kita bahwa Yesus tak berbuat begitu. Beliau menyebut pembuat damai
sebagai anak-anak Allah (Matius 5:9).
Beliau menganjurkan para pengikut
beliau berbuat baik menjadi anak-anak Bapak-mu yang di surga (Matius 5:45).
Kita baca, “Karena itu haruslah kamu
sempurna sama seperti Bapak-mu yang di surga adalah sempurna” (Matius 5:48),
“Mereka sama seperti malaikat-malaikat
dan mereka adalah anak-anak Allah” (Lukas 20:36).
Maka jelas Yesus tidak pernah
memperkenalkan suatu perubahan dalam istilah Yahudi dan Perjanjian Lama. Dengan
ungkapan anak Allah beliau selalu maksudkan orang baik dan benar (saleh). Yesus
tentu saja anak Allah dalam makna ini. Beliau adalah seorang suci, seorang nabi
sejati. Sedih untuk mencatat, bahwa arti baru telah diperkenalkan dalam
ungkapan lama anak Allah yang digunakan Yesus seperti nabi-nabi Bani Israil
terdahulu. Kini hal itu telah berubah jadi makna Tuhan atau oknum kedua dalam
keTuhanan.
Ada empat jenis anak yakni: anak
angkat, kandung (sejati), tiri dan kiasan. Yesus tak dapat menjadi anak tiri
atau anak angkat Tuhan, sebab Tuhan tidak punya istri, tidak pula Dia akan
diwarisi oleh seseorang. Tidak pula Yesus Kristus dapat menjadi anak sejati
(kandung) Tuhan, sebab beliau bukan berasal dari benih Tuhan dan istri-Nya. Lukas
menafsirkan keputraan beliau secara kiasan sebagai saleh (benar) (Lukas 23:47
dan Markus 15:39). Jika Yesus Kristus dianggap anak Allah dalam arti sebenarnya
sebab beliau lahir tanpa bapak, maka Ibrani 7:13 membuktikan kekeliruan ini.
Disitu dinyatakan,
“Sebab Malkisedek adalah raja Salem dan Imam Allah yang Maha Tinggi, ia
pergi menyongsong Abraham ketika kembali dari mengalahkan raja-raja dan
memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya.
Menurut arti namanya Malkisedek pertama-tama raja kebenaran dan juga raja
Salem, yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak ber-bapak, tidak ber-ibu, tidak
bersilsilah, harinya tidak bertanggal dan hidupnya tidak berkesudahan dan
karena ia dijadikan sama dengan anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai
selama-lamanya”.
Bukankah mengherankan bahwa
beliau yang tak punya silsilah harus dikeluarkan dari Trinitas tetapi beliau
yang mempunyai ibu dibumi dimasukkan?
Kadang-kadang dianggap bahwa
Yesus ditetapkan dalam Matius 28:19 telah bersabda, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah
mereka dalam nama Bapak dan Anak dan Rohkudus” sebab itu beliau adalah
oknum kedua Trinitas.
Tempat pertama untuk menolak hal
ini harus dicatat bahwa perkataan ini hanya tertulis di Matius dan tidak ada
ditempat lain. Matius pandai melebih-lebihkan dan menurut Peak’s Commentary on the Bible halaman 723 berikut catatan pada
ayat yang dipersoalkan, “Gereja dimasa
permulaan tidak melaksanakan perintah seluruh dunia ini, bahkan seandainya
mereka tahu itu. Perintah untuk membaptis dalam tiga nama itu adalah
pengembangan doktrin kemudian”.
Dalam I Yohanes 5:7-8 didapati
campur tangan serupa. Terbaca:
“Sebab ada tiga yang memberi kesaksian didalam surga: Bapak, Firman dan
Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang member kesaksian di
bumi: Roh, air dan darah, dan ketiganya adalah satu”. Revd. I.R. Dummelow’s
Bible Commentary, page 1075 telah banyak mengatakan hal diatas: “Sangat pasti bahwa kata-kata ini bukan
berasal dari teks asli. Kata-kata itu ditemukan dalam naskah Yunani lebih awal
daripada abad ke-4 dan dikutip oleh sebagian Paderi sebelum pertengahan abad
ke-5. Paderi-paderi memahami ayat-ayat itu dalam bentuk aslinya menyimbolkan
trinitas, suatu penafsiran yang mungkin telah disisipkan catatan pinggir pada
mulanya dan sesudah itu dimasukkan kedalam teks”.
Peak’s Commentary on Bible page 920 juga memberi pandangan sama
berikut ini: “Perkataan-perkataan didalam Surga … di bumi” didapati di dalam The Authorized Version (Kings James Version)
bukan merupakan teks asli, tetap wewenang melalui campur tangan (dimasukkan).
(Sumber: Edaran Berkala
Kristologi no 61 tahun VI Juni 2002, jusman.wordpress.com)


Comments
Post a Comment