Penolakan terhadap Konsep Ajaran Kekekalan Hidup

image: wahidfoundation.org


Mungkin saja seorang manusia dalam hal kasih-sayang mencapai batas sedemikian rupa sehingga ia tidak tega membunuh kuman-kuman yang ada pada lukanya. Ia begitu tolerannya terhadap makhluk-makhluk hidup, sehingga ia tidak ingin mencelakakan kutu-kutu yang ada di kepala atau kuman-kuman yang terdapat dalam perut, dalam usus atau dalam otak. Bahkan dapat kami akui, bahwa ada orang yang demikian jauhnya mempunyai rasa kasih-sayang sehingga ia berpantang minum madu. Sebab untuk memperoleh madu itu banyak nyawa harus dibinasakan dan lebah-lebah malang itu harus diusir dari sarangnya.

Kami percaya ada orang yang berpantang menggunakan minyak kesturi sebab terbuat dari darah kijang yang diperoleh dengan membunuh binatang malang itu terlebih dulu dan memisahkan dari anak-anaknya. Begitu pula kami tidak menyangkal, ada orang yang tidak mau menggunakan mutiara dan tidak mau memakai sutera, sebab keduanya diperoleh dengan cara membinasakan hewan-hewan malang itu. Bahkan kami percaya ada orang yang ketika sakit berpantang menggunakan lintah dan membiarkan dirinya sendiri menderita asal tidak membuat lintah itu mati. Pada akhirnya __baik ada orang yang percaya atau tidak, namun kami percaya__ bahwa ada orang yang memperlihatkan kasihsayang demikian besar, sehingga untuk menyelamatkan kutu-kutu air ia rela membinasakan dirinya dengan pantang minum air. Kami mengakui semua hal itu, akan tetapi kami sekali-kali tidak dapat menerima bahwa semua keadaan thabi’i (alami) itu dapat disebut akhlak. Atau, bahwa hanya dengan itu dapat dibersihkan kekotoran batin yang merintangi jalan untuk berjumpa dengan Wujud Allah Ta’ala. Kami sekalikali tidak akan percaya bahwa kerendahan hati dan sikap toleran seperti itu __yang mengenainya hewan berkaki empat dan unggas pun lebih baik dalam perkara tersebut__ dapat menjadi faktor untuk meraih derajat kemanusiaan yang tinggi. Bahkan, menurut kami itu adalah menentang hukum kudrat, berlawanan dengan akhlak mulia guna mendapatkan keridhaan Allah, dan mengingkari nikmat yang telah dilimpahkan kudrat kepada kita. Justru tingkat keruhanian itu sebenarnya diperoleh melalui penggunaan yang tepat setiap akhlak menurut keadaan serta kesempatan, dan dengan melangkah secara setia pada jalan Allah serta menyerahkan diri kepada kehendak-Nya. Ada pun tanda orang yang menjadi milik-Nya, ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Seorang-arif adalah ibarat seekor ikan yang telah disembelih oleh tangan Tuhan sedangkan airnya adalah kecintaan Ilahi.


Selengkapnya bisa baca disini.


Comments

Popular Post