Keadaan Manusia Sesudah Mati


Keadaan manusia sesudah mati itu sesungguhnya bukanlah suatu keadaan baru, melainkan keadaan-keadaan di alam dunia ini juga yang dinampakkan lebih jelas. Apa pun akidah yang dianut dan amal-amal yang dikerjakan manusia –yang baik maupun yang buruk– di alam dunia ini tersembunyi dalam diri manusia, dan obat penangkalnya atau pun racunnya memberi dampak terselubung pada diri manusia. Akan tetapi di alam mendatang tidaklah demikian keadaannya, melainkan segala keadaan itu secara terbuka akan menampakkan wajahnya.

Contohnya dapat ditemukan di alam mimpi. Yakni sesuatu yang mempengaruhi tubuh manusia di alam mimpi akan nampak dalam bentuk jasmani. Apabila seseorang akan terserang demam tinggi maka acap kali di dalam mimpinya nampak api dan kobaran api. Apabila ia terserang influenza ia melihat dirinya di dalam air.

Ringkasnya, sebagaimana tubuh telah melakukan persiapan terhadap penyakit-penyakit maka keadaan-keadaan itu akan nampak di alam mimpi dalam bentuk tamsil. Jadi, dengan menelaah untaian mimpi-mimpi setiap manusia dapat memahami bahwa demikian jugalah sunnah Allah di alam ukhrawi. Sebab sebagaimana mimpi menimbulkan suatu perubahan tersendiri dalam diri kita, lalu menampakkan unsur-unsur rohani dalam bentuk jasmani, demikian jugalah yang akan berlaku di alam jasmani. Dan pada hari itu amal perbuatan kita dan buah-buahnya akan tampil secara jasmani. Dan segala sesuatu yang terselubung akan kita bawa bersama dari alam ini, pada hari itu semuanya akan tampak nyata di hadapan kita. Dan sebagaimana manusia menyaksikan berbagai macam tamsil di alam mimpi –dan tidak pernah menganggap itu sebagai tamsil, bahkan ia meyakininya sebagai benda-benda nyata– demikian pula yang akan berlaku di alam ukhrawi. Bahkan Allah Ta’ala melalui tamsil-tamsil akan memperlihatkan kudrat-Nya yang baru. Dikarenakan itu merupakan kudrat yang kamil (sempurna) maka jika pun kita tidak menyebutnya sebagai tamsil-tamsil –dan mengatakan hal itu sebagai suatu kelahiran baru kudrat Tuhan– maka ungkapan itu sangat benar, tepat, dan betul.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tiada seorang pun mengetahui, penyejuk mata apa yang dibiarkan tersembunyi dari mereka.” (QS. As-Sajdah, 32:18)

Yakni, seorang manusia yang beramal shalih tidak mengetahui nikmat-nikmat apa saja yang tersembunyi baginya. Jadi, Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa nikmat-nikmat itu tersembunyi, yang tidak ada contohnya di antara nikmatnikmat dunia. Ini suatu kenyataan bahwa nikmat-nikmat dunia tidaklah tersembunyi dari kita. Kita mengetahui susu, delima, anggur, dan lain-lain serta kita senantiasa memakan bendabenda itu. Jadi, dari itu diketahui bahwa nikmat-nikmat bagi manusia yang beramal shalih adalah lain, dan namanya saja yang sama dengan benda-benda ini. Jadi, barangsiapa yang menganggap bahwa surga seperti kumpulan benda-benda dunia berarti dia tidak memahami Al-Quran Syarif satu huruf pun.

Dalam penjelasan ayat ini –yang baru saja saya sebutkan– Junjungan kita Nabi Muhammads.a.w. bersabda bahwa surga dan nikmat-nikmatnya merupakan benda-benda yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pula pernah terlintas dalam hati. Padahal nikmat-nikmat dunia kita saksikan dengan mata dan juga kita dengan dengan telinga serta di dalam hati pun nikmat-nikmat itu terlintas.

Jadi, tatkala Allah dan Rasul-Nya menyatakan benda-benda itu sebagai benda-benda asing maka kita jauh meninggalkan Al-Quran Syarif, jika kita beranggapan bahwa di dalam surga nanti yang akan ada ialah susu dunia ini juga, yang diperah dari kerbau dan sapi-sapi, seakan-akan di sana terdapat bergerombol-gerombol ternak penghasil susu. Di atas pohonpohon bergelayutan sarang-sarang lebah, dan malaikat-malaikat mencari lalu mengambil madu, kemudian menuangkannya ke dalam sungai-sungai.

Apakah pemikiran-pemikiran serupa itu sesuai dengan ajaran ini? Yaitu ajaran yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa benda-benda itu mencahayai ruh serta melipat-gandakan makrifat Ilahi dan merupakan makanan rohani. Walaupun seluruh gambaran makan-makan itu telah diungkapkan dalam bentuk jasmani, namun beriringan dengan itu telah dijelaskan bahwa sumber utama benda-benda tersebut adalah ruh dan kebenaran. Janganlah ada yang beranggapan demikian dengan alasan bahwa di dalam ayat Al-Quran Syarif berikut ini didapati bahwa nikmat-nikmat yang akan dianugerahkan di surga itu akan dikenali oleh para ahli surga setelah melihatnya, sebab nikmat-nikmat itu telah mereka peroleh juga sebelumnya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh bahwasanya untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali bila diberikan kepada mereka sebagian buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, berkata mereka, “Inilah yang telah diberikankepada kami dahulu,” dan akan diberikan kepada mereka yang hampir serupa.” (QS. Al-Baqarah, 2:26).

Yakni, sampaikanlah kabar suka kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan yang tak mempunyai cela sedikit pun, bahwa mereka adalah pewaris surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di akhirat, ketika mereka akan mendapatkan buah-buahan yang telah mereka peroleh dari pohon dalam kehidupan di dunia ini juga, mereka akan bekata, “Ini jugalah buah-buahan yang telah diberikan kepada kami dahulu”, sebab mereka akan mendapatkan buah-buahan itu sama dengan buah-buahan sebelumnya.

Anggapan bahwa yang dimaksud buah-buahan yang dahulu itu merupakan nikmat-nikmat jasmani di dunia adalah keliru sekali serta sungguh bertentangan dengan arti dan logika ayat sebenarnya dari ayat terdahulu. Melainkan dalam ayat ini Allah Ta’ala menerangkan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shalih mereka telah membangun sebuah surga dengan tangan mereka sendiri, yang pohon-pohonnya adalah iman dan sungai-sungainya adalah amal shalih. Buah-buah surga yang demikian itulah yang akan mereka makan di masa mendatang, dan buah-buah itu akan lebih nyata dan lebih lezat. Dan dikarenakan mereka secara rohani telah memakan buahbuah itu di dunia, karena itu mereka akan mengenali buah-buah tersebut di alam nanti serta mereka akan berkata, “Tampaknya ini adalah buah-buah yang pernah kami makan sebelumnya”, dan mereka akan menemukan buah-buah tersebut sama seperti makanan mereka dahulu. Jadi, ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa orang-orang yang biasa memakan makanan kecintaan serta kasih-sayang Tuhan di dunia, makanan itu jugalah yang akan mereka dapati nanti dalam bentuk jasmani. Dan dikarenakan mereka telah mencicipi kelezatan cinta dan kasih-sayang serta mengetahui benar keadaannya, oleh sebab itu ruh mereka akan ingat kembali zaman lampau. Yaitu tatkala mereka duduk menyendiri di pojok-pojok tertentu mengenang Kekasih Hakiki mereka dengan kecintaan di dalam kegelapan malam, dan mereka menikmati kenangan itu.

Ringkasnya, di sini makanan-makanan jasmani tidak disinggung sedikit pun. Sekiranya di dalam hati seseorang timbul pemikiran –bahwa sejak di dunia orang-orang arif sudah memperoleh makanan-makanan itu secara rohani, maka bagaimana mungkin dapat dinyatakan benar bila mengatakan bahwa itu adalah nikmat-nikmat yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun di dunia, tidak pernah terdengar, dan tidak pernah terlintas di dalam hati seseorang, sehingga dalam hal demikian timbul pertentangan di antara kedua ayat tersebut? – maka jawabannya adalah bahwa pertentangan itu baru akan timbul jika yang dimaksud didalam ayat ini adalah nikmat-nikmat dunia. Padahal pada ayat ini yang dimaksudkan bukan nikmatnikmat dunia. Apa pun yang diperoleh seorang arif dalam bentuk makrifat, itu pada hakikatnya merupakan nikmat alam ukhrawi yang contohnya telah diperlihatkan terlebih dahulu untuk membangkitkan seleranya.

Hendaknya diingat, bahwa orang yang mempunyai hubungan dengan Tuhan bukanlah berasal dari dunia –itulah sebabnya dunia membencinya– melainkan dia berasal dari langit oleh karena itu ia menerima nikmat-nikmat samawi (langit/rohani). Jadi, memang benar bahwa nikmat-nikmat tersebut tersembunyi dari telinga, hati dan mata dunia. Akan tetapi seseorang yang kehidupan duniawinya telah mengalami maut (kematian) dan mangkuk itu diminumkan kepadanya secara ruhani –yaitu mangkuk yang di alam ukhrawi akan dinikmati secara jasmani– maka saat itu akan teringat olehnya bahwa mangkuk itu jugalah yang akan diberikan kepadanya dalam bentuk jasmani. Akan tetapi ini pun benar, bahwa ia dari segi mata dan telinga dunia akan dianggap tidak tahu menahu perihal nikmat tersebut. Dikarenakan ia dahulu berada di dunia –namun bukan dari kalangan dunia– oleh karena itu ia pun akan memberikan kesaksian bahwa nikmat-nikmat ukhrawi tersebut bukanlah nikmat-nikmat duniawi. Ketika di dunia matanya tidak pernah melihat nikmat semacam itu, tidak pula telinganya pernah mendengar nikmat demikian dan tidak pernah terlintas di hati. Akan tetapi di sisi kehidupan kedua dia telah menyaksikan contoh-contoh nikmat ukhrawi yang bukan berasal dari dunia, melainkan yang merupakan suatu kabar dari alam yang akan datang. Ia mempunyai hubungan serta kaitan dengan alam itu, sedangkan dengan dunia sedikit pun ia tidak mempunyai kaitan.


Baca selengkapnya disini


Comments

Popular Post